God
Loves Me!
Mohammad Rael
Apa makna Tuhan bagi seorang pemabuk?
Dua minggu lalu saya baru menyadarinya.
Seorang rekan bule saya bertanding tenis meja dengan saya. Dalam timnya, dia
merupakan pemain urutan kedua, saya sendiri pemain nomor satu dalam tim saya.
Udara dingin kota Armidale tidak menghalangi serunya
pertandingan saat itu. Mike, rekan saya tersebut, dengan mudah saya kalahkan
pada game pertama. Tiba-tiba dia bangkit kembali di game selanjutnya, sehingga
memaksa dilakukan game ketiga.
Di saat kritis, bola dari si Mike bergulir
tipis sehingga sulit saya jangkau. Pada saat itulah Mike berteriak, "God
loves me!" Saya kalah. Dan Mike tersenyum sambil mengatakan, "Tuhan
mencintai saya!"
Setelah itu saya dekati Mike. Dia dengan
enteng kemudian berkata, "Ada
sebuah lagu populer....Tuhan mencintai anjing kecil, anak kecil dan para
pemabuk." Mike, yang saya tahu memang gemar menenggak minuman keras,
melanjutkan lagi, "Malam ini sebelum bertanding saya sudah minum dua gelas
wine."
Saya terkejut. Bukan karena memang saya
mencium aroma wine dari mulutnya, dan juga bukan karena sulit menerima
kenyataan bahwa seorang pemabuk mampu mengalahkan saya, akan tetapi saya
terkejut karena teringat kembali teriakan Mike, "God loves me!"
Bagaimana mungkin seorang pemabuk dicintai
oleh Tuhan?
Pertandingan berikutnya telah menjawab rasa
terkejut saya. Dalam pertandingan ganda, Mike dan pasangannya menelan pil pahit
dan kalah dengan mudah. Saat itulah saya mendengar Mike sekali lagi berteriak,
namun kali ini isi teriakannya penuh dengan kata-kata kotor. Rupanya dia kesal
dengan kekalahannya. Tuhan tidak lagi disebut dalam kalimatnya.
Jangan-jangan inilah makna Tuhan bagi
seorang pemabuk seperti Mike. Tuhan disebut ketika dia mendapat sesuatu yg
baik, dan Tuhan dilupakan pada kejap berikutnya ketika dia mendapat kemalangan.
Lambat laun saya teringat bahwa
jangan-jangan kita selama ini beragama dengan cara seperti seorang Mike
memandang Tuhan. Kita puji Tuhan ketika kita mau, dan kita lupakan Dia
ketika kita mau.
Ah.....tampaknya pertanyaan di awal tulisan
ini perlu diganti dengan: "Apa makna Tuhan bagi kita? "
Bersediakah kita mengingat Tuhan dalam suka dan duka? Banyak ayat suci
menggambarkan masalah ini, diantaranya Qs al-Fajr: 15-16
Tak disangka, saya bukan saja kalah bermain
tenis meja dari si Mike yang pemabuk itu, namun saya juga belajar memandang
makna Tuhan gara-gara si Mike itu!
al-Haq min Allah!




0 komentar:
Posting Komentar